Masa Depan Sepak Bola Eropa Terancam Oleh Efek Corona
Suasana sepi di luar Stadion San Siro di Milan, Italia (27/2/2020). Akibat virus COVID-19 yang sedang mewabawah, pertandingan leg kedua babak 32 besar Liga Europa UEFA antara Inter Milan melawan Ludogorets dimainkan tanpa penonton. (Xinhua/Alberto Lingria)

Masa Depan Sepak Bola Eropa Terancam Oleh Efek Corona

Posted on
Masa Depan Sepak Bola Eropa Terancam Oleh Efek Corona
Suasana sepi di luar Stadion San Siro di Milan, Italia (27/2/2020). Akibat virus COVID-19 yang sedang mewabawah, pertandingan leg kedua babak 32 besar Liga Europa UEFA antara Inter Milan melawan Ludogorets dimainkan tanpa penonton. (Xinhua/Alberto Lingria)

Jakarta – Pandemi virus corona COVID-19 belum usai bahkan cenderung memburuk. Sepak bola, khususnya Eropa, sangat terpukul, terutama dari segi finansial.

Otoritas sepak bola tertinggi dunia, FIFA dan juga UEFA sebagai induk sepak bola Eropa terus berupaya menemukan formula terbaik mengatasi situasi ini.

Beberapa keputusan sudah diambil, termasuk menunda jalannya kompetisi. Piala Eropa 2020 yang sudah di depan mata pun diundur hingga 2021 mendatang.

Klub-klub sepak bola di berbagai belahan dunia pusing dibuatnya. Finansial pun terganggu. Tak ada satu pun yang bisa memastikan kapan situasi ini bisa reda.

Berikut ini Bola.com merangkum tujuh hal yang menjadi concern buat sepak bola Eropa.

Bagaimana Liga Berakhir

Bila dikerucutkan, maka ada tiga opsi terbaik.

Pertama, liga kembali digulirkan langsung ketika sudah bisa dijalankan. Yang kedua, dimainkan secara tertutup. Terakhir, dianggap selesai dan tak pernah ada kompetisi musim 2019-2020.

Kolaps

Berhentinya roda kompetisi membuat klub tidak mendapatkan pemasukan dari hak siar atau broadcasting royalty. Padahal, gaji pemain dan staf tetap berputar secara normal.

Jika masalah ini tak teratasi, maka banyak klub terancam bangkrut. UEFA bisa bersikap bijaksana dengan melenturkan regulasi Financial Fair Play.

Kebijaksanaan Pemain

Menyambung poin kedua, maka pemain punya peran signifikan. Pengeluaran terbesar klub umumnya datang dari sektor gaji pemain.

Klub sebenarnya bisa mengajukan permintaan kepada pemainnya dengan opsi pemotongan gaji. Klub Bundesliga, Borussia Monchengladbach paling bersyukur sebab para pemain sepakat memotong gajinya agar finansial klub stabil.

Bahwa Kontrak Pemain Habis pada 30 Juni

Kontrak dan status peminjaman akan habis pada 30 Juni. Sementara dengan ditundanya kompetisi, besar kemungkinan musim baru akan selesai pada Juli.

Ini akan membuat pusing klub, agen, dan pemerintah terkait izin kerja karena diharuskan ada penyesuaian.

Transfer Pemain

Krisis keuangan yang menimpa mayoritas klub akan mengganggu bursa transfer. Saga transfer yang biasa ditemui saat musim panas dan dingin besar kemungkinan tak akan ada.

Dengan krisis ini, jual beli pemain bakal minim. Jika pun ada, bisa dipastikan besaran uang tak akan besar karena nyaris semua klub memiliki defisit keuangan.

Uang Lagi

Banyak klub sudah menyepakati klausul kontrak dengan klub lain. Ada kewajiban membayarkan sejumlah uang, seperti bonus, add-ons, ‘kredit pembelian’ pemain, dan masih banyak lagi.

Dengan kolapsnya finansial klub, mereka akan sulit melakukan tambal sulam di sana sini. Jeratan utang bakal membengkak.

Meledak Tahun 2021

Jika situasi tak membaik dalam waktu dekat, sementara finansial makin jeblok, perputaran uang di klub bakal tidak jelas.

Tahun 2021, bisa jadi banyak klub sepak bola yang pontang-panting memperbaiki roda ekonomi. Sementara pajak dan kewajiban finansial lainnya tetap berjalan ‘normal’, maka klub bisa bangkrut tahun depan.