Jepang Mulai Pusing soal Dana
Jepang Mulai Pusing soal Dana

Jepang Mulai Pusing soal Dana

Diposting pada

Tokyo – Jepang harus mengeluarkan dana lebih banyak akibat penundaan Olimpiade Tokyo 2020 selama satu tahun.

Seperti diketahui, Olimpiade musim panas tahun ini terpaksa mundur ke tahun 2021 akibat pandemi virus Corona yang menjangkiti hampir seluruh isi bumi.

Dalam hal ini, Jepang sebagai tuan rumah menjadi korban. Namun, keputusan penundaan tetap menjadi yang terbaik demi keselamatan manusia.

Jepang sudah menginvestasikan 12 miliar dolar AS untuk ajang ini. Presiden Komite Penyelenggara Olimpiade Tokyo 2020, Yoshiro Mori mengatakan, pihaknya berpotensi mengeluarkan lebih banyak dana untuk memulai persiapan lagi dalam setahun ini.

Jepang Mulai Pusing soal Dana
Jepang Mulai Pusing soal Dana

“Beban ekstra bakal meningkat akibat penundaan ini. Itu pasti,” tulis Mori dalam surat yang ditujukan kepad 33 federasi olahraga internasional, dikutip Reuters dari laman insidethegames.biz.

Sampai saat ini, Jepang sudah merasakan dampak ekonomi yang cukup besar akibat pandemi ini. Terutama ialah dari pemasukan sektor wisata.

Penundaan Olimpiade Tokyo 2020 membuat situasi makin rumit. Jepang masih mempertanyakan siapa yang bakal menanggung beban dana akibat penundaan tersebut.

Kerugian Ekonomi

Menurut laporan Financial Times, Sekretaris jenderal Asosiasi Hotel dan Ryokan Jepang, Shigemi Sugo, mengatakan kepada wartawan bahwa anggotanya sudah melaporkan sejumlah kerugian.

Padahal sebelumnya, Jepang menempatkan Olimpiade Tokyo 2020 sebagai satu di antara pemasukan, dengan menarik sebanyak mungkin wisatawan.

Kepala ekonom UBS, Masamichi Adachi mengatakan, situasi ini perlu ditanggapi dengan serius. Olimpiade adalah peluang untuk terus maju. Rata-rata pertumbuhan ekonomi riil di negara-negara maju yang telah menjadi tuan rumah Olimpiade sejak 1992 menunjukkan pertumbuhan terkuat pada tahun-tahun menjelang ajang.

Tapi, menurut Adachi, situasi dunia yang belum pasti akibat pandemi virus Corona menyebabkan kerugian ekonomi dalam jangka waktu pendek.

Sumber: Reuters via Antara, Financial Times