ed woodward

5 Dosa Besar Manchester United Sejak era David Moyes: Nyaris Rekrut Jurgen Klopp?

Diposting pada

Sudah enam tahun berlalu sejak David Moyes dipecat, tapi Manchester United masih begitu-begitu saja. Artinya, Moyes tidak sepenuhnya bersalah atas keterpurukan MU.

Moyes, alias The Chosen One, merupakan pilihan langsung Sir Alex Ferguson untuk melanjutkan tugas beratnya di MU. Sayangnya Fergie juga bisa salah, memilih Moyes justru jadi awal bencana.

Seharusnya pelatih pertama yang meneruskan tugas berat Fergie adalah pelatih top, karena sudah pasti MU akan memasuki masa-masa sulit. Namun, Moyes jelas tidak masuk kategori pelatih top itu, dapat dipahami mengapa dia gagal total.

Moyes dianggap bersalah atas keterpurukan MU sampai saat ini, yang baru mulai bangkit di era Ole Gunnar Solskjaer. Mulai dari kebijakan transfer yang keliru, manajemen manusia yang keliru, intinya Moyes selalu disalahkan.

Kendati demikian, FourFourTwo melihat ulang langkah MU beberapa tahun terakhir dan memahami bahwa Moyes tidak sepenuhnya bersalah. Justru pihak klub yang beberapa kali membuat kesalahan besar, bahkan sampai sekarang.

  • Tidak Menunjuk Direktur Teknik

Ferguson bukan sekadar pelatih, dia justru lebih sering terlibat langsung dalam pemantauan pemain berbakat dan rekrutmen pemain. Begitu ditinggal Fergie, MU seharusnya tahu bahwa mereka bakal menghadapi masalah besar.

Ferguson adalah segalanya. Dia terlibat dalam keputusan di level pimpinan, rekrutmen pemain dan staf, juga menanamkan filosofi yang jelas tentang perkembangan pemain muda ke tim inti. Di era modern ini, itu adalah tugas direktur teknik.

Sepak bola modern memang membutuhkan perubahan struktur. Sekarang tidak bisa semuanya dikerjakan pelatih, harus ada bantuan dari direktur teknik. Sayangnya, sampai sekarang MU belum juga merekrut direktur teknik yang tepat.

  • Gagal Memaksimalkan Paul Pogba

pogba

Anak hilang yang kembali dari Juventus pada tahun 2016, seharusnya Paul Pogba jadi bintang besar baru kesayangan Old Trafford. Dia tiba di era Jose Mourinho dan dianggap sebagai salah satu gelandang terbaik di dunia.

Namun, Pogba hanya membawa kekecewaan. Bakatnya jelas luar biasa, terbukti saat membantu Prancis menjuarai Piala Dunia 2018. Namun, entah mengapa Pogba dalam kostum MU jauh berbeda.

Dia masih pemain paling berbakat dalam skuad MU yang sekarang, yang terbukti dengan 31 gol dan 31 assists dalam 150 pertandingan. Namun, sudah cukup jelas bahwa Pogba sedang mencari jalan keluar dari Old Trafford.

  • Kebijakan Transfer Buruk

angel di maria

Tanpa direktur teknik, kebijakan transfer MU benar-benar buruk pasca-kepergian Moyes. Fans MU sampai bertanya-tanya apakah klub kesayangan mereka masih menarik bagi pemain-pemain top.

Van Gaal dan Mourinho tidak bisa berdalih, kebijakan transfer mereka buruk, atau mungkin klub yang tidak bisa membelikan pemain sesuai keinginan mereka.

Empat dari daftar 10 besar pembelian termahal MU ada di era Mourinho: Pogba, Romelu Lukaku, Fred, dan Nemanja Matic. Belum lagi pemain-pemain mahal lainnya seperti Alexis Sanchez, Victor Lindelof, dan Henrikh Mkhitaryan.

Van Gaal juga bersalah. Dia membeli Angel Di Maria, Morgan Schneiderlin, Memphis Depay, Matteo Darmian, dan Bastian Schweinsteiger, semua pemain itu sudah tidak berkostum MU.

  • Alexis Sanchez

alexis sanchez

Saking buruknya, pemain Chile ini bahkan dibuatkan nomor sendiri. Entah apa yang dipikirkan MU saat memutuskan transfer Sanchez, mungkin hanya ingin melukai Man City.

Sanchez memang bermain apik di Arsenal. Dia salah satu permain paling penting yang terbukti dengan 80 gol dalam 166 pertandingan. Namun, begitu pergi dari Arsenal, gol-gol Sanchez hanya tinggal kenangan.

Masalahnya sederhana: MU tidak benar-benar membutuhkan Sanchez. MU sudah punya banyak pemain muda di pos sayap kiri, yang merupakan posisi bermain Sanchez.

Kehadiran Sanchez justru pernah menghambat perkembangan Marcus Rashford dan Anthony Martial, lalu ddia menepi beberapa bulan karena cedera. Hanya itu kegiatan Sanchez di MU.

  • Gagal Merekrut Jurgen Klopp

jurgen klopp

Sekarang MU hanya bisa menyesal dan berandai-andai. Ternyata dahulu mereka nyaris mendapatkan Jurgen Klopp, seandainya ini terwujud.

Kala itu, menjelang kepergian Moyes, Ed Woodward terbang ke Jerman untuk mencoba merayu Klopp. Sayangnya rayuan Woodward benar-benar buruk, dia menjual MU sebagai tempat ajaib di mana talenta terbaik tercipta dan mimpi bisa jadi nyata.

Klopp merasa aneh dengan cara Woodward merayunya dan memilih bertahan di Dortmund. Beberapa bulan setelahnya, Liverpool datang dengan penawaran yang lebih baik dan Klopp setuju pindah.

Sumber : FourFourTwo